Jumat, 20 Maret 2015

MEANING OF LOVE



“MEANING OF LOVE”




“i hate this love song, i hate this love song, i hate this love song.” Kamar itu terlihat rapi dengan barisan buku yang tertata rapih di rak gantungnya yang berwarna warni. Beberapa majalah fhasion berserakan diatas tempat tidur yang juga terlihat nyaman, sangat jelas bahwa pemilik kamar sangat apik menjaganya. Samar-samar terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi, alunan suara yang merdu menggema didalamnya. Sementara itu seseorang tengah berjingkat-jingkat memasuki kamar itu, menjatuhkan tubuhnya diatas kasur. Dan dalam sekejap kamar yang sangat rapih itu berubah drastis, terdengar seseorang membuka pintu kamar mandi dan “aaaaaaaa,,,,,,”
Terlihat seorang pria yang sedang duduk menunduk sambil sesekali menatap perempuan didepannya dengan geram.
“Dion,!! sudah berapakali ayah bilang jangan mengendap-endap ke kamar seorang gadis, meski dia adalah kakak mu.” Ujar Pak Dodi
“apa ? gadis, apa ayah tidak salah, dia itu babi gemuk yang isinya lemak semua” sungut Dion
“apa ??!, yakk kau bocah sialan, kemari kau akan ku sumpal mulut mu itu.” Teriak Dami.
“Dami, jaga bicara mu.” Ujar Ibu Nina
“Dion, minta maaf !! cepat!” ujar ayahnya berwibawa.
“apa ?? tidak mau, aku tidak salah ayah.” Ujar dion ngotot
“Dion, cepat minta maaf” ujar ibunya lagi.
“baikalh, huhh kakak aku minta maaf” ujar Dion terpaksa.
“emh, baiklah demi adik ku yang tercinta kau ku maafkan, tapi kau harus bereskan kamar ku sebagai gantinya.” Ujar dami dengan wajah yang gemas.
“tidak,!! Jangan harap !!” ujar jiyong melipat kedua tanganya.
“Ma. Lihat anak kesayangan Mama ini.” Ujar dami merajuk
“Dion, kau harus bertanggung jawab atas perbuatan mu sayang.” Ujar Bu Nina membelai anaknya.
“tapi,,” ujar Dion
“Dion, ayolah.” sela Bu Nina lagi.
Dengan berat hati jiyong melangkah menuju kamar Dami, terdengar suara pintu yang dibanting dan rutukan kesal Dion. Tiba-tiba saja semua tertawa cekikikan.
“apa semuanya sudah siap ??” tanya Pak Dodi
“emh, sudah. Aku sudah menatanya dimeja makan Yah.” Ujar Bu Nina
“lihatkan, aku sudah bilang kita tidak perlu keluar uang untuk mengalihkannya, dia itu tidak bisa tahan untuk tidak membuat masalah bahkan sehari pun.” Timpal dami.
Sementara itu, Dion dengan malas membereskan majalah yang ia berantakan tadi. Tiba-tiba sebuah majalah fhasion waita mencuri perhatiannya, Dion mengambil majalah itu dan membacanya. Cover nya seorang gadis muda nan imut lengkap dengan biodata dirinya, dituliskan pula maksudnya adalah ingin mengumpulkan sahabat pena dari seluruh dunia.
“wah, dia imut sekali. ^_^ siapa namanya ini ? Dara, wah sangat unik.” Ujar Dion sambil melihat sosok mungil itu dengan senyumnya yang memikat.
“Dion, cepat turun kemari.” Teriak dami dari bawah.
“iya, sebentar.” Teriak Dion dengan malas, “ah beda sekali dia dengan kakak” keluh Dion yang berjalan malas keluar kamar. Tiba-tiba saja setelah dia keluar kamar, seseorang menutupi kepalanya dengan.
“AAAaaaaAaAAAAaa siapa kau ?? lepaskan aku. Cepat.!! Mama,, Pah, tolong aku.!!” Teriak Dion panik
“jalan,!! cepat jalan.!!” Ujar orang itu menodongkan sesuatu dipinggang Dion.
“b b ba baklah, jangan sakiti aku.” Pinta Dion.
“ sekarang duduk!, cepat duduk.!!” Ujar orang itu menyuruh Dion dengan paksa.
Tiba-tiba orang itu membuka tutup kepala Dion dan,,, sebuah kue ulang tahun besar berada didepannya, dengan lilin bertuliskan angka 17, Dion mengerjapkan kedua matanya dan melihat kiri dan kanan nya, tampak ayah, ibu dan kakaknya  berdiri dengan cengiran khas. Ditangan mereka terdapat masing-masing kado besar.
“happy brith day Dion. :*” ujar mereka bertiga.
“ap apa apa ini ?? jadi kita tidak dirampok ??” tanya Dion kikuk
“tentu saja, dasar bodoh,” ujar dami memukul kepala Dion
“yakk,, setidaknya bersikap baiklah pada ku  untuk saat ini. Inikan hari ulang tahun ku.” Ujar Dion mengusap keplanya.
Siang itu mereka menghabiskan hari bersama ke restorant, tempat hiburan, taman permainan, hari itu benar-benar hari yang istimewa untuk Dion, 17, itu artinya dia akan punya KTP sendiri dalam dompetnya.
Dion berjalan memasuki kamarnya sambil sesekali mengusap rambutnya yang basah, Dion duduk didepan meja belajarnya dan kembali teringat sosok mungil dimajalah itu.
“Dara,,” gumam Dion. Tiba-tiba muncul ide gila dikepalanya, rasa ingin berteman dengan dara kian menggebu-gebu setelah melihat gambar cantiknya. Entah tekad apa yang membuatnya memberanikan diri mengambil pena dan selembar kertas.
Setelah berkutat beberapa lama, Dion mulai merasa frustasi, entah ini kertas yang keberapa ratus, rasanya sulit sekali membuat surat untuk seorang gadis.
“ahh,, aku menyerah. Sulit sekali, apa ya  yang sebaiknya aku katakan ??” keluh Dion menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kesal. “ahh aku tahu.” Ujar Dion dan kembali menulis surat dengan semangat berapi-api.
Dengan langkah yang ragu, Dion berjalan mendekati kotak pos itu, berpikir apakah akan mengirimkannya atau tidak. Apakah sebaiknya ia urungkan saja niatnya, perlahan Dion memasukan surat itu dalam kotak surat, lalu buru-buru menariknya lagi dan kembali berpikir apakah harus dikirmkan atau tidak ?? dan kembali Dion memasukannya dan saat ia hendak menariknya kambali surat itu terlepas dari tangannya.
“ahh, sial apa yang harus ku lakukan ?? aduh, bagai mana ini ??” keluh Dion mencoba mengambil kembali suratnya dengan sia-sia.
Akhirnya Dion pulang dengan wajah ditekuk dalam-dalam dia berfikir apa yang akan dilakukan dara, saat membaca suratnya. Ahh bodoh, bodoh sekali fikir Dion. Setelah seminggu berlalu, Dion mendapat surat balasan dari alamat yang tak pernah ia duga, orang yang tak pernah dia sangka akan membalasnya. Dion berlari memasuki kamarnya, hampir saja menabrak Dami yang sedang berjalan keluar kamar.
Dion, memasuki kamarnya dan mengunci pintunya. Dengan degup jantung yang tak berturan jiyong mencoba menenangkan diri, 1000 pertanyaan mulai muncul dikepalanya, apa yang kira-kira Dara tulis, apa dia mau jadi temannya. Dan semuanya bercampur membuat perasaannya campur aduk. Dion mulai menyobek ujung surat itu, menarik isinya keluar dan kata pertama yang dibacanya adalah
          Hi,,
Dion mulai membuka keseluruhannya dengan senyum yang mengembang lebar, Dion merasa ada taburan bunga yang menghiasi hatinya, seperti ledakan, ledakan,, Dion kembali mengambil pena dan kertas, menggoreskan kalimat selanjutnya. Dan minggu-minggu berikutnya Dion menghabiskan untuk menanti dan membuat surat. Saat itu Dion duduk dibangku SMA tingkat 2, masa-masa yang dia fikir akan membosankan, justru sangat menyenangkan, karna tentu saja dara menemani tiap pekannya, memang awalnya perkenalan mereka diisi dengan pertengkaran kecil seperti:
          Nama ku Dion, aku melihat biodata mu dimajalah kakak ku.
Singkat memang tapi cukup menyenangkan.
          >Dion ?? nama mu sama seperti anjing peliharaan tetangga ku. Aku dara,
<Apa ?? anjing ?? haha nama mu bahkan sama dengan penjual ikan dipasar. Kirimkan foto mu.
>ha,, peniru. Cari bahasan yang lain sana. Ini foto ku, awas jangan dipandang terus kamu bisa suka nanti.
<haha tidak akan, haha lucu sekali, kamar ku sekarang tidak ada nyamuk, setelah kupajang foto mu. Ini foto ku
>wah, kau yakin tinggal di Bandung, kau mirip tukan kebun tetangga ku. Trims untuk gambar mu, aku menyimpannya didapur sejak itu tikus dirumah ku kena over dosis semua.

Begitulah kira-kira, hari berganti, minggu berlalu mereka lewati bersama, rasa persahabatan tanpa terasa tumbuh menjadi benih cinta, seminggu tak memberi kabar, satu sama lain saling menanyakan, sampai akhirnya Dion memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada dara, dan ternyata dara menanggapinya positif, masa-masa SMA pun makin menyenangkan. Kini Dion sudah berada di SMA tingkat 3, begitupun dara, menjalin hubungan long distance reallationship selama 1 tahun lebih bukanlah hal yang mudah, hanya berkomunikasi melalu surat, meluapkan kerinduan hanya dengan untaian dan barisan kata, tidak bisa saling menatap dan mencurahkan kerinduan dengan leluasa, tapi itu tidak lantas mebuat mereka mengakhiri hubungan, justru itulah tantangannya untuk mereka, saat dara ulang tahun Dion mengirimkan sebuah boneka beruang  besar. Tidak sedikit godaan yang menghadang, teman-teman dara dan Dion tidak diam melihat temannya menjalani LDR,  berbagai kemungkinan mereka ungkapkan.
“ra, LDR itu gak mudah loh, namja itu paling gak kuat untuk LDR.”
“Dion, masa sih lo mau setia sama cewe yang lo sendiri gak pernah temuin,”
Begitulah kira-kira, tapi Dion dan dara saling meyakinkan hati masing-masing bahwa mereka sungguh-sungguh dengan cinta mereka. Dara mengatakan ayah nya setuju dengan hubungan mereka, tidak lupa dara menyisipkan foto dirinya dan sang ayah. Tapi seminggu berselang dara memberitahukan berita buruk, bahwa keluarganya mendapat musibah, sejak itu dara hilang dan tak pernah membalas lagi surat  yang Dion kirimkan. Dion melewatkan masa-masa pengakhiran SMA nya dengan penuh ketidak pastian, namun Dion bertekad untuk terus memperjuangkan cintanya.
“Dion, kau sudah siap ?? tanya Bu Nina memanggil anaknya.
“iya ma, sebentar lagi !!” ujar Dion dari dalm kamarnya. Dion menatap meja belajarnya, disana adalah kali pertama seumur hidupnya menulis surat untuk wanita, disitu pula luapan kalimat rindu yang Dion utarakan untuk dara.
“dara, tunggulah sayang. Aku akan menjemputmu.” Ujar Dion memegang kopernya.
“ah kau lama sekali, nanti kau bisa ketinggalan bis.” Ujar Bu Nina mengingatkan.
“iya mama, i will miss you mom” ujar Dion memeluk ibunya erat, tiba-tiba saja Dion mendengar isakan.
“iya, ibu juga akan merindukan kamu sayang, hati-hati jangan lupa makan, jangan terlalu keras bekerja, jaga kesehatan mu.” Ujar Bu Nina mendikte semuanya
“ma aku bisa telat kalo mama terus mendikte ku begitu :*” ujar Dion mencium kening ibunya.
“Dion, hati-hati ya.” Ujar Pa Dodi memeluk anaknya erat.
Dion memasuki bis dan menatap orangtuanya yang menatap kepergiannya.
“dara, aku datang sayang. Tunggu aku, aku akan menjemput mu.” Gumam Dion dan tertidur selama sisa perjalanan
Sore itu, Dion tiba diterminal, suasana sesak udara menyeruak, beda sekali dengan kampung halamanya yang udaranya masih sangat sejuk. Dion menyapu seluruh pandanganya kesemua bagian terminal, pandanganya berhenti pada seorang tua disudut terminal. Pakaiannya kumuh dan compang camping, seakan tak acuh orang tua itu cuek menatap sekeliling sampai pandanganya bertemu dengan mata Dion. Tiba-tiba saja orang tua itu menyeringai kegirangan dan bergerak sigap menghampiri Dion, Dion yang terkejut tak sempat berlari atau menghindar.
“ah, Pak Bram.!! Akhirnya bapak datang juga. Sudah lama saya nunggu bapak, telat ya. Maklum ya pak Jakarta memang supernya macet. Oh ya kapan kita mau mulai membicarakan tender kita itu ?? ah maaf saya lupa tidak menyuguhkan minuman untuk bapak, sekertaris saya sedang cuti hamil” ujar bapak tua itu berbicara panjang lebar, sementara Dion bengong dibuatnya.
“maaf pak, bapak salah orang, saya bukan pak bram !!” ujar Dion menjelaskan.
“ah Pak Bram ini, suka guyon, ayo sini tanda tangan disini, ini dan ini.” Ujarnya sambil menodorkan sebuah puntung roko dan korang usang yang dibungkus plastk kuning.
“maaf pak, saya sungguh bukan Pak Bram.” Ujar Dion mengingatkan lagi, seketika mata bapak itu berubah marah dan langsung mencengkram tubuh kurus Dion.
“kurang ajar, anda jangan macam-macam dengan saya. Saya tahu anda pasti bersekongkol dengan si brengsek Bambang untuk menjatuhkan saya.” Teriak bapak tua itu tepat depan wajah Dion yang terguncang, orang-orang mulai berkumul untuk menjauhkan bapak tua itu dari Dion, lalu tiba-tiba bapak itu kembali tak acuh dengan suasana disekelilingnya , memunguti koranya yang berhamburan, dan pergi meninggalkan Dion yang masih terbengong, sementara bapak itu kembali duduk diemperan terminal, Dion menatapnya iba, sungguh ia perkirakan dulu bapak itu memiliki masa jayanya sampai ia dihianati oleh rekan kerjanya, kasihan. Tiba-tiba rasa iba kembali menyelubungi hati Dion seakan-akan ia pernah bertemu dengan orang tua gila itu.
Sudah 3 jam berlalu dari kejadan yang mengagetkan itu, Dion masih duduk dikedai kopi memandangi bapak itu yang sekali-kali memasukan sesuatu kedalam mulutnya. Rasa iba itu kembali, kali ini Dion beranikan diri untuk menghampirinya.
“pak, mari ikut saya.” Ujar Dion lembut
“wah, Pak Bram sudah datang rupanya. Ayo pak kita bicarakan tender kita yang bernilai milyaran itu, ah tunggu bapak mau minum apa ? aduh sekertaris saya sedang cuti hamil rupanya.” Ujar bapak tua itu mengulangi kalimatnya seperti sebelumnya
“iya, saya terlambat. Maklum jakarta kan macet, tapi sebelum itu mari kita makan dulu” ujar Dion, rasanya ingin ia menangis saat itu juga membayangkan sosok ayahnya dirumah yang segar bugar lalu jadi depresi.
Bapak itu memakan nasi dengan lahapnya, entah sudah berapa lama mungkin dia tidak makan makanan yang layak. Sesekali bapak itu tertawa dan membuat nasi dalam mulutya berhamburan keluar, lalu sesekali menangis dalam matanya yang berkaca-kaca.
Selesai makan bapak itu duduk dan mengapit korang itu seakan itulah harta miliknya yang berharga, jiyong menghampiri dan menatapnya kian iba.
“pak bram maaf ini saya harus pulang istri dan anak saya sudah nunggu kasihan mereka dirumah sendirian.” Ujar bapak tua itu dan meninggalkan Dion, punggung renta itu makin mengecil dan hilang ditikungan jalan. Saat akan meninggalkan tempat makan itu sesuatu mencuri perhatiannya, Dion menunduk untuk melihat dengan jelas apa sebenarnya ini. Dan betapa terkejutnya ia, ternya itu adalah sebuah potret, didalamnya nampak seorng bapak dan gadis kecilnya yang imut, lucu dan yang saat ini tengah menghantui hati dan fikiran Dion. Dion berlari untuk mengejar orang tua itu, tapi sayang dia sudah hilang entah kemana.
“Dara, jadi inikah maksud dari musibah yang kau katakan. Oh dara, kamu salah sayang jika mengira aku akan meninggalkan kan mu karna hal ini. Rupanya hatimu belum sepenuhnya milik ku.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar