“MEANING OF LOVE”
“i hate this love song, i hate this love song, i hate this love song.” Kamar
itu terlihat rapi dengan barisan buku yang tertata rapih di rak gantungnya yang
berwarna warni. Beberapa majalah fhasion berserakan diatas tempat tidur yang
juga terlihat nyaman, sangat jelas bahwa pemilik kamar sangat apik menjaganya.
Samar-samar terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi, alunan suara yang
merdu menggema didalamnya. Sementara itu seseorang tengah berjingkat-jingkat
memasuki kamar itu, menjatuhkan tubuhnya diatas kasur. Dan dalam sekejap kamar
yang sangat rapih itu berubah drastis, terdengar seseorang membuka pintu kamar
mandi dan “aaaaaaaa,,,,,,”
Terlihat seorang pria yang sedang duduk menunduk sambil sesekali menatap
perempuan didepannya dengan geram.
“Dion,!! sudah berapakali ayah bilang jangan mengendap-endap ke kamar
seorang gadis, meski dia adalah kakak mu.” Ujar Pak Dodi
“apa ? gadis, apa ayah tidak salah, dia itu babi gemuk yang isinya lemak
semua” sungut Dion
“apa ??!, yakk kau bocah sialan, kemari kau akan ku sumpal mulut mu
itu.” Teriak Dami.
“Dami, jaga bicara mu.” Ujar Ibu Nina
“Dion, minta maaf !! cepat!” ujar ayahnya berwibawa.
“apa ?? tidak mau, aku tidak salah ayah.” Ujar dion ngotot
“Dion, cepat minta maaf” ujar ibunya lagi.
“baikalh, huhh kakak aku minta maaf” ujar Dion terpaksa.
“emh, baiklah demi adik ku yang tercinta kau ku maafkan, tapi kau harus
bereskan kamar ku sebagai gantinya.” Ujar dami dengan wajah yang gemas.
“tidak,!! Jangan harap !!” ujar jiyong melipat kedua tanganya.
“Ma. Lihat anak kesayangan Mama ini.” Ujar dami merajuk
“Dion, kau harus bertanggung jawab atas perbuatan mu sayang.” Ujar Bu
Nina membelai anaknya.
“tapi,,” ujar Dion
“Dion, ayolah.” sela Bu Nina lagi.
Dengan berat hati jiyong melangkah menuju kamar Dami, terdengar suara
pintu yang dibanting dan rutukan kesal Dion. Tiba-tiba saja semua tertawa
cekikikan.
“apa semuanya sudah siap ??” tanya Pak Dodi
“emh, sudah. Aku sudah menatanya dimeja makan Yah.” Ujar Bu Nina
“lihatkan, aku sudah bilang kita tidak perlu keluar uang untuk
mengalihkannya, dia itu tidak bisa tahan untuk tidak membuat masalah bahkan
sehari pun.” Timpal dami.
Sementara itu, Dion dengan malas membereskan majalah yang ia berantakan
tadi. Tiba-tiba sebuah majalah fhasion waita mencuri perhatiannya, Dion
mengambil majalah itu dan membacanya. Cover nya seorang gadis muda nan imut
lengkap dengan biodata dirinya, dituliskan pula maksudnya adalah ingin
mengumpulkan sahabat pena dari seluruh dunia.
“wah, dia imut sekali. ^_^ siapa namanya ini ? Dara, wah sangat unik.”
Ujar Dion sambil melihat sosok mungil itu dengan senyumnya yang memikat.
“Dion, cepat turun kemari.” Teriak dami dari bawah.
“iya, sebentar.” Teriak Dion dengan malas, “ah beda sekali dia dengan
kakak” keluh Dion yang berjalan malas keluar kamar. Tiba-tiba saja setelah dia
keluar kamar, seseorang menutupi kepalanya dengan.
“AAAaaaaAaAAAAaa siapa kau ?? lepaskan aku. Cepat.!! Mama,, Pah, tolong
aku.!!” Teriak Dion panik
“jalan,!! cepat jalan.!!” Ujar orang itu menodongkan sesuatu dipinggang
Dion.
“b b ba baklah, jangan sakiti aku.” Pinta Dion.
“ sekarang duduk!, cepat duduk.!!” Ujar orang itu menyuruh Dion dengan
paksa.
Tiba-tiba orang itu membuka tutup kepala Dion dan,,, sebuah kue ulang
tahun besar berada didepannya, dengan lilin bertuliskan angka 17, Dion
mengerjapkan kedua matanya dan melihat kiri dan kanan nya, tampak ayah, ibu dan
kakaknya berdiri dengan cengiran khas.
Ditangan mereka terdapat masing-masing kado besar.
“happy brith day Dion. :*” ujar mereka bertiga.
“ap apa apa ini ?? jadi kita tidak dirampok ??” tanya Dion kikuk
“tentu saja, dasar bodoh,” ujar dami memukul kepala Dion
“yakk,, setidaknya bersikap baiklah pada ku untuk saat ini. Inikan hari ulang tahun ku.”
Ujar Dion mengusap keplanya.
Siang itu mereka menghabiskan hari bersama ke restorant, tempat hiburan,
taman permainan, hari itu benar-benar hari yang istimewa untuk Dion, 17, itu
artinya dia akan punya KTP sendiri dalam dompetnya.
Dion berjalan memasuki kamarnya sambil sesekali mengusap rambutnya yang
basah, Dion duduk didepan meja belajarnya dan kembali teringat sosok mungil
dimajalah itu.
“Dara,,” gumam Dion. Tiba-tiba muncul ide gila dikepalanya, rasa ingin
berteman dengan dara kian menggebu-gebu setelah melihat gambar cantiknya. Entah
tekad apa yang membuatnya memberanikan diri mengambil pena dan selembar kertas.
Setelah berkutat beberapa lama, Dion mulai merasa frustasi, entah ini
kertas yang keberapa ratus, rasanya sulit sekali membuat surat untuk seorang
gadis.
“ahh,, aku menyerah. Sulit sekali, apa ya yang sebaiknya aku katakan ??” keluh Dion
menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kesal. “ahh aku tahu.” Ujar Dion
dan kembali menulis surat dengan semangat berapi-api.
Dengan langkah yang ragu, Dion berjalan mendekati kotak pos itu,
berpikir apakah akan mengirimkannya atau tidak. Apakah sebaiknya ia urungkan
saja niatnya, perlahan Dion memasukan surat itu dalam kotak surat, lalu
buru-buru menariknya lagi dan kembali berpikir apakah harus dikirmkan atau
tidak ?? dan kembali Dion memasukannya dan saat ia hendak menariknya kambali
surat itu terlepas dari tangannya.
“ahh, sial apa yang harus ku lakukan ?? aduh, bagai mana ini ??” keluh
Dion mencoba mengambil kembali suratnya dengan sia-sia.
Akhirnya Dion pulang dengan wajah ditekuk dalam-dalam dia berfikir apa
yang akan dilakukan dara, saat membaca suratnya. Ahh bodoh, bodoh sekali fikir
Dion. Setelah seminggu berlalu, Dion mendapat surat balasan dari alamat yang
tak pernah ia duga, orang yang tak pernah dia sangka akan membalasnya. Dion
berlari memasuki kamarnya, hampir saja menabrak Dami yang sedang berjalan
keluar kamar.
Dion, memasuki kamarnya dan mengunci pintunya. Dengan degup jantung yang
tak berturan jiyong mencoba menenangkan diri, 1000 pertanyaan mulai muncul
dikepalanya, apa yang kira-kira Dara tulis, apa dia mau jadi temannya. Dan
semuanya bercampur membuat perasaannya campur aduk. Dion mulai menyobek ujung
surat itu, menarik isinya keluar dan kata pertama yang dibacanya adalah
Hi,,
Dion mulai membuka keseluruhannya dengan senyum yang mengembang lebar,
Dion merasa ada taburan bunga yang menghiasi hatinya, seperti ledakan,
ledakan,, Dion kembali mengambil pena dan kertas, menggoreskan kalimat
selanjutnya. Dan minggu-minggu berikutnya Dion menghabiskan untuk menanti dan
membuat surat. Saat itu Dion duduk dibangku SMA tingkat 2, masa-masa yang dia
fikir akan membosankan, justru sangat menyenangkan, karna tentu saja dara
menemani tiap pekannya, memang awalnya perkenalan mereka diisi dengan
pertengkaran kecil seperti:
Nama ku Dion, aku melihat
biodata mu dimajalah kakak ku.
Singkat memang tapi cukup menyenangkan.
>Dion ?? nama mu sama
seperti anjing peliharaan tetangga ku. Aku dara,
<Apa ?? anjing ?? haha nama mu bahkan sama
dengan penjual ikan dipasar. Kirimkan foto mu.
>ha,, peniru. Cari bahasan yang lain sana.
Ini foto ku, awas jangan dipandang terus kamu bisa suka nanti.
<haha tidak akan, haha lucu sekali, kamar
ku sekarang tidak ada nyamuk, setelah kupajang foto mu. Ini foto ku
>wah, kau yakin tinggal di Bandung, kau
mirip tukan kebun tetangga ku. Trims untuk gambar mu, aku menyimpannya didapur
sejak itu tikus dirumah ku kena over dosis semua.
Begitulah kira-kira, hari berganti, minggu berlalu mereka lewati
bersama, rasa persahabatan tanpa terasa tumbuh menjadi benih cinta, seminggu
tak memberi kabar, satu sama lain saling menanyakan, sampai akhirnya Dion
memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada dara, dan ternyata dara
menanggapinya positif, masa-masa SMA pun makin menyenangkan. Kini Dion sudah
berada di SMA tingkat 3, begitupun dara, menjalin hubungan long distance
reallationship selama 1 tahun lebih bukanlah hal yang mudah, hanya
berkomunikasi melalu surat, meluapkan kerinduan hanya dengan untaian dan
barisan kata, tidak bisa saling menatap dan mencurahkan kerinduan dengan
leluasa, tapi itu tidak lantas mebuat mereka mengakhiri hubungan, justru itulah
tantangannya untuk mereka, saat dara ulang tahun Dion mengirimkan sebuah boneka
beruang besar. Tidak sedikit godaan yang
menghadang, teman-teman dara dan Dion tidak diam melihat temannya menjalani
LDR, berbagai kemungkinan mereka
ungkapkan.
“ra, LDR itu gak mudah loh, namja itu paling gak kuat untuk LDR.”
“Dion, masa sih lo mau setia sama cewe yang lo sendiri gak pernah
temuin,”
Begitulah kira-kira, tapi Dion dan dara saling meyakinkan hati masing-masing
bahwa mereka sungguh-sungguh dengan cinta mereka. Dara mengatakan ayah nya
setuju dengan hubungan mereka, tidak lupa dara menyisipkan foto dirinya dan sang
ayah. Tapi seminggu berselang dara memberitahukan berita buruk, bahwa
keluarganya mendapat musibah, sejak itu dara hilang dan tak pernah membalas
lagi surat yang Dion kirimkan. Dion
melewatkan masa-masa pengakhiran SMA nya dengan penuh ketidak pastian, namun
Dion bertekad untuk terus memperjuangkan cintanya.
“Dion, kau sudah siap ?? tanya Bu Nina memanggil anaknya.
“iya ma, sebentar lagi !!” ujar Dion dari dalm kamarnya. Dion menatap
meja belajarnya, disana adalah kali pertama seumur hidupnya menulis surat untuk
wanita, disitu pula luapan kalimat rindu yang Dion utarakan untuk dara.
“dara, tunggulah sayang. Aku akan menjemputmu.” Ujar Dion memegang
kopernya.
“ah kau lama sekali, nanti kau bisa ketinggalan bis.” Ujar Bu Nina
mengingatkan.
“iya mama, i will miss you mom” ujar Dion memeluk ibunya erat, tiba-tiba
saja Dion mendengar isakan.
“iya, ibu juga akan merindukan kamu sayang, hati-hati jangan lupa makan,
jangan terlalu keras bekerja, jaga kesehatan mu.” Ujar Bu Nina mendikte
semuanya
“ma aku bisa telat kalo mama terus mendikte ku begitu :*” ujar Dion
mencium kening ibunya.
“Dion, hati-hati ya.” Ujar Pa Dodi memeluk anaknya erat.
Dion memasuki bis dan menatap orangtuanya yang menatap kepergiannya.
“dara, aku datang sayang. Tunggu aku, aku akan menjemput mu.” Gumam Dion
dan tertidur selama sisa perjalanan
Sore itu, Dion tiba diterminal, suasana sesak udara menyeruak, beda
sekali dengan kampung halamanya yang udaranya masih sangat sejuk. Dion menyapu
seluruh pandanganya kesemua bagian terminal, pandanganya berhenti pada seorang
tua disudut terminal. Pakaiannya kumuh dan compang camping, seakan tak acuh
orang tua itu cuek menatap sekeliling sampai pandanganya bertemu dengan mata
Dion. Tiba-tiba saja orang tua itu menyeringai kegirangan dan bergerak sigap
menghampiri Dion, Dion yang terkejut tak sempat berlari atau menghindar.
“ah, Pak Bram.!! Akhirnya bapak datang juga. Sudah lama saya nunggu bapak,
telat ya. Maklum ya pak Jakarta memang supernya macet. Oh ya kapan kita mau
mulai membicarakan tender kita itu ?? ah maaf saya lupa tidak menyuguhkan
minuman untuk bapak, sekertaris saya sedang cuti hamil” ujar bapak tua itu
berbicara panjang lebar, sementara Dion bengong dibuatnya.
“maaf pak, bapak salah orang, saya bukan pak bram !!” ujar Dion
menjelaskan.
“ah Pak Bram ini, suka guyon, ayo sini tanda tangan disini, ini dan ini.”
Ujarnya sambil menodorkan sebuah puntung roko dan korang usang yang dibungkus
plastk kuning.
“maaf pak, saya sungguh bukan Pak Bram.” Ujar Dion mengingatkan lagi,
seketika mata bapak itu berubah marah dan langsung mencengkram tubuh kurus Dion.
“kurang ajar, anda jangan macam-macam dengan saya. Saya tahu anda pasti
bersekongkol dengan si brengsek Bambang untuk menjatuhkan saya.” Teriak bapak
tua itu tepat depan wajah Dion yang terguncang, orang-orang mulai berkumul
untuk menjauhkan bapak tua itu dari Dion, lalu tiba-tiba bapak itu kembali tak
acuh dengan suasana disekelilingnya , memunguti koranya yang berhamburan, dan
pergi meninggalkan Dion yang masih terbengong, sementara bapak itu kembali duduk
diemperan terminal, Dion menatapnya iba, sungguh ia perkirakan dulu bapak itu
memiliki masa jayanya sampai ia dihianati oleh rekan kerjanya, kasihan.
Tiba-tiba rasa iba kembali menyelubungi hati Dion seakan-akan ia pernah bertemu
dengan orang tua gila itu.
Sudah 3 jam berlalu dari kejadan yang mengagetkan itu, Dion masih duduk
dikedai kopi memandangi bapak itu yang sekali-kali memasukan sesuatu kedalam
mulutnya. Rasa iba itu kembali, kali ini Dion beranikan diri untuk
menghampirinya.
“pak, mari ikut saya.” Ujar Dion lembut
“wah, Pak Bram sudah datang rupanya. Ayo pak kita bicarakan tender kita
yang bernilai milyaran itu, ah tunggu bapak mau minum apa ? aduh sekertaris
saya sedang cuti hamil rupanya.” Ujar bapak tua itu mengulangi kalimatnya
seperti sebelumnya
“iya, saya terlambat. Maklum jakarta kan macet, tapi sebelum itu mari
kita makan dulu” ujar Dion, rasanya ingin ia menangis saat itu juga
membayangkan sosok ayahnya dirumah yang segar bugar lalu jadi depresi.
Bapak itu memakan nasi dengan lahapnya, entah sudah berapa lama mungkin
dia tidak makan makanan yang layak. Sesekali bapak itu tertawa dan membuat nasi
dalam mulutya berhamburan keluar, lalu sesekali menangis dalam matanya yang
berkaca-kaca.
Selesai makan bapak itu duduk dan mengapit korang itu seakan itulah
harta miliknya yang berharga, jiyong menghampiri dan menatapnya kian iba.
“pak bram maaf ini saya harus pulang istri dan anak saya sudah nunggu
kasihan mereka dirumah sendirian.” Ujar bapak tua itu dan meninggalkan Dion,
punggung renta itu makin mengecil dan hilang ditikungan jalan. Saat akan
meninggalkan tempat makan itu sesuatu mencuri perhatiannya, Dion menunduk untuk
melihat dengan jelas apa sebenarnya ini. Dan betapa terkejutnya ia, ternya itu
adalah sebuah potret, didalamnya nampak seorng bapak dan gadis kecilnya yang
imut, lucu dan yang saat ini tengah menghantui hati dan fikiran Dion. Dion
berlari untuk mengejar orang tua itu, tapi sayang dia sudah hilang entah
kemana.
“Dara, jadi inikah maksud dari musibah yang kau katakan. Oh dara, kamu
salah sayang jika mengira aku akan meninggalkan kan mu karna hal ini. Rupanya
hatimu belum sepenuhnya milik ku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar